Mengapa Kuliah Kedokteran di Unpad Bisa Terjangkau

Mengapa Kuliah Kedokteran di Unpad Bisa Terjangkau
CNN Indonesia -- Jika sudah besar nanti mau jadi apa? Sebagian pasti menjawab, ingin jadi insinyur dan dokter. Pertanyaan klasik mengenai sebuah cita-cita seringkali dilontarkan semasa kecil, dan jawaban peringkat dua teratas adalah menjadi insinyur dan dokter.
Bukan rahasia umum bahwa biaya pendidikan di negeri ini terkenal sangat mahal. Tentunya hal ini akan menjadi faktor penghambat yang sangat nyata bagi terwujudnya cita-cita. Bagi sebagian masyarakat yang memiliki biaya tentunya tidak akan menjadi masalah yang besar namun, bagi sebagian yang tidak memiliki finansial yang kuat apa tidak menjadi masalah?

Semua orang tua mengharapkan anak-anaknya sukses dan memiliki pendidikan yang tinggi hingga perguruan tinggi. Tetapi kendala terbesar yang dihadapi adalah tingginya biaya pendidikan yang harus ditebus oleh masyarakat menjadikan harapan itu seakan menjadi impian yang terkubur. Jangankan biaya pendidikan perguruan tinggi, untuk tingkat taman kanak-kanak atau sekolah dasar saja di negeri ini sudah cukup tinggi biayanya. Sangat di sayang kan apabila banyak anak-anak yang berprestasi cemerlang harus berhenti dipertengahan jalan karena keterbatasan biaya pendidikan.

Sejak 2016, Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung membebaskan biaya kuliah pendidikan kedokteran bagi mahasiswa baru. Sejak itu pun, bayangan mahal akan biaya kuliah kedokteran seakan tak perlu dikhawatirkan.

Meski demikian, tak berarti jalan masuk program kuliah kedokteran di kampus itu mudah. Ada syarat dan perjanjian yang harus dipenuhi calon mahasiswa bila ingin mengenyam program studi sarjana pendidikan dokter dan pendidikan dokter spesialis di sana.

Semua mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Unpad harus bersedia ditempatkan di daerah mana pun di wilayah Jawa Barat begitu lulus. Jika tidak memenuhi kesepakatan tersebut, ijazah tidak akan diberikan. Kesepakatan antara mahasiswa dan universitas pun dituangkan dalam perjanjian.

Pada dasarnya, program tersebut diadakan karena sejumlah daerah di Jawa Barat mengalami kekurangan tenaga medis khususnya dokter. Maka dari itu, pemerintah daerah bekerja sama dengan Unpad dalam penyediaan dokter. Akhirnya, semua biaya kuliah pun ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Pemerataan dokter
Sampai saat ini, tenaga dokter di sebagian daerah di Indonesia kerap menjadi permasalahan. Hal ini bukan karena tenaga dokternya yang kurang melainkan sebaran yang tidak merata.

Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per 9 Mei 2016, jumlah dokter di Indonesia ada 110.720 orang. Jumlah itu dimaknai satu dokter melayani 2.270 penduduk.

Rasio dokter di Indonesia ini sebenarnya sudah melampaui target 1 dokter berbanding 2.500 penduduk. Sayangnya, tenaga dokter umumnya terkumpul di kota besar dan provinsi tertentu.

Sebagai perbandingan, DKI Jakarta memiliki rasio satu dokter menangani 608 penduduk. Jumlah ini timpang bila melihat Sulawesi Barat yang rasio satu dokter mengurusi 10.417 penduduk.

Walaupun begitu, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk tak bisa diterapkan secara merata. Di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, rasio dokter belum terpenuhi akibat jumlah penduduk kebanyakan. Di Indonesia timur, misalnya, standar tersebut sulit diterapkan akibat wilayah luas, medan sulit, dan penduduk terpencar.

Salah satu kejadian terkait pentingnya dokter di daerah terpencil dialami dokter Lie Augustinus Dharmawan dan timnya pada bulan Maret 2009 di Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara.

Ada seorang ibu yang datang dengan anak perempuannya yang berusia 9 tahun. Anak itu mengerang kesakitan akibat ususnya terjepit. Ternyata, demi mencapai posko pengobatan,  warga dari Saumalaki itu butuh waktu 3 malam 2 hari dengan naik kapal.

Melansir wawancara bersama dokter Lie di Rumah Sakit Husada, Jakarta, dari Kompas.com, Senin (17/08/2015) perjuangan mereka untuk bisa mendapat pelayanan kesehatan tak sekadar perjalanan yang jauh, tapi juga ongkos besar harus dikeluarkan. Ibu dan anak perempuannya itu juga harus mencari uang terlebih dahulu untuk bisa menyewa kapal dan membeli bahan bakar minyak.

Kini, Lie sudah mendirikan rumah sakit apung. Lalu, bersama Lisa Suroso, ia membangun pula doctorSHARE atau Yayasan Dokter Peduli yang kegiatannya mengadaptasi sistem “jemput bola” atau mendatangi pasien dengan menggunakan rumah sakit apung karena keterbatasan akses dan infrastruktur kesehatan di daerah terpencil.

Semua tenaga medis yang sudah tergabung dalam yayasan tersebut turut membantu pengobatan gratis di daerah kepulauan, terpencil atau pedalaman. Adapun pembiayaannya berasal dari donasi masyarakat. (ded/ded) 
sumber : https://student.cnnindonesia.com

Pages