Peluang SMK Lulus SNMPTN, SBMPTN atau Ujian Mandiri. yang Harus Jadi Catatan Sebelum Berjuang Masuk Perguruan Tinggi Negeri

karena dulu saya nggak cukup pede bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ditambah, saya nggak punya bekal informasi yang cukup mengenai SNMPTN, SBMPTN, atau Ujian Mandiri secara umum. Padahal ‘kan lebih baik kalau kita punya pilihan perguruan tinggi sebanyak-banyaknya.
Nah, ternyata para junior saya di SMK banyak yang menanyakan hal serupa. “Bisa nggak, sih, masuk PTN meskipun kita lulusan SMK?”. BISA BANGET! Kunci utamanya adalah RAJIN CARI INFORMASI.
Secara umum, kamu bisa melihat perbedaan SNMPTN, SBMPTN dan ujian Mandiri di artikel ini. Pahami perbedaan dan peluang masuknya, supaya kamu tahu mana jalur yang sekiranya paling memungkinkan untuk kamu tempuh.
Harus diakui, pendidikan sarjana sebetulnya dipersiapkan untuk siswa SMA. Oleh karena itu, jatah penerimaan siswa SMK di PTN memang nggak banyak. Tapi jatah yang nggak banyak itu bisa kamu maksimalkan, kok.
PTN Jalur SNMPTN untuk SMK
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah seleksi masuk PTN tanpa tes. Penilaiannya berdasarkan nilai raport. Oleh karena itu, sekolah kamu juga bakal dilihat prestasi dan track record-nya. Misalnya, apakah sekolah kamu pernah terlibat tawuran, punya kasus kekerasan, punya banyak prestasi, punya jejak alumni yang oke, dan lain sebaginya.
Tips:
1. Pahami persyaratan pendaftaran SNMPTN
Syarat untuk ikut SNMPTN adalah sebagai berikut:
A. Memiliki prestasi unggul yaitu: calon peserta masuk peringkat terbaik di sekolah pada semester tiga, semester empat dan semester lima, dengan ketentuan berdasarkan akreditasi sekolah.
B. Memiliki NISN dan terdaftar pada PDSS
C. Memiliki nilai rapor semester satu sampai semester lima (bagi siswa SMA/MA, SMK tiga tahun) atau nilai rapor semester satu sampai semester tujuh (bagi SMK empat tahun) yang telah diisikan pada PDSS
D. Memenuhi persyaratan lain yang ditentukan oleh masing-masing PTN.
2. Pilih jurusan kuliah yang sejalur dengan jurusan SMK kamu
Menurut situs Halo Kampus, panitia SNMPTN menyarankan agar siswa SMK memilih jurusan kuliah yang sejalur dengan jurusan pendidikan mereka di SMK. Soalnya, kalau kamu mendaftar di jurusan yang sesuai dengan rumpun pendidikan SMK kamu, maka peluang penerimaan kamu relatif akan lebih besar. Wah, berarti kesempatan menembus SNMPTN bagi siswa SMK yang mau kuliah di jurusan yang “nggak nyambung”—seperti saya dulu—jadi kecil banget, dong?
Jangan sedih dulu, shay! Coba cek jurusan SMK dan jurusan kuliah kamu. Siapa tahu jurusan kuliah incaran kamu sebenarnya nggak jauh-jauh amat dengan jurusan SMK kamu sekarang!
Youthmanual
3. Lihat peta sebaran alumni SMK
Coba datangi guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah kamu dan minta data sebaran alumni di berbagai PTN.
Soalnya, seperti yang saya bilang di atas, salah satu penilaian SNMPTN adalah asal sekolah. Dengan demikian, kamu perlu cari tahu, lulusan SMK kamu paling banyak diterima di PTN mana?
Misalnya, kamu adalah siswa SMK A. Setelah kamu lihat, ternyata alumni SMK A paling banyak diterima di PTN B. Dengan demikian, kesempatan kamu lebih besar untuk masuk PTN B daripada PTN C, D, E, dan lainnya. Maka, PTN B sebaiknya jadi prioritas kamu.
4. Cari tahu jatah penerimaan SMK di setiap PTN dan kuota jurusannya
Selain cari tahu data sebaran alumni, kamu juga perlu cari tahu jatah penerimaan SMK di Perguruan Tinggi Negeri yang kamu tuju.
FYI, setiap tahun, jatah penerimaan siswa SMK di sebuah PTN tuh beda-beda banget, gaes. Ada PTN yang banyak menerima lulusan SMK, ada yang nggak menerima sama sekali. Lagi-lagi, hal ini tergantung asal sekolah dan sebaran alumninya.
Selain cari tahu tentang jatah penerimaan anak SMK di PTN incaran kamu, kamu juga musti kepoin jatah penerimaan di jurusannya. Biasanya, kalau tingkat penerimaan jurusannya besar, peluang anak SMK untuk bisa masuk jurusan tersebut juga makin besar.
5. Prestasi di sekolah menjadi pertimbangan penerimaan
Kalau kamu punya prestasi lomba/kejuaraan, baik akademis maupun non akademis, kamu jadi bisa mendapat nilai tambah. Soalnya, prestasi tambahan di luar kelas akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi PTN untuk menerima siswa SMK lewat SNMPTN.
Jadi jangan lupa konsultasikan dengan guru di SMK kamu, supaya prestasi kamu di-recognize oleh PTN pilihan kamu.
PTN Jalur SBMPTN dan Ujian Mandiri untuk SMK
Kalau lulusan SMK memilih jalur SBMPTN, kamu memang harus belajar pelajaran SMA secara maksimal sebelum ikut ujian. Kesempatan untuk masuk PTN antara anak SMA dengan SMK itu sama saja, asalkan nilai ujiannya mampu bersaing.
Masalahnya, anak SMK nggak belajar mata pelajaran normatif (Matematika, Kimia, Ekonomi, dll.) sedalam anak SMA. Karena itu kamu butuh mempelajari kembali materi ujian seperti layaknya anak-anak SMA.
Sementara, SMK yang ikut Ujian Mandiri menjadi hak masing-masing PTN. Materi dan tata cara ujian mandiri berbeda-beda, tergantung universitas dan jurusan masing-masing. Namun ujiannya biasanya tertulis dan materinya nggak beda jauh dengan SBMPTN.
Setiap tahun, jatah penerimaan siswa SMK di sebuah Perguruan Tinggi Negeri tuh beda-beda banget, gaes.
Tips:
Kamu WAJIB belajar keras sebelum ujian masuk PTN.
Begitu masuk kelas 12, kamu sudah harus memikirkan kelas tambahan atau kursus mata pelajaran normatif yang akan menjadi soal ujian masuk universitas incaran. Kebanyakan anak SMK yang akan meneruskan pendidikan ke universitas mengambil kelas tambahan Matematika dan Bahasa Inggris.
Hal ini perlu dilakukan mengingat nggak banyak materi mata pelajaran normatif yang kita kuasai secara mendalam. Makanya, kelas tambahan bakal membantu banget deh!
Kamu juga bisa beli buku-buku soal ujian masuk universitas. Salah satu cara belajar paling efektif menurut metode belajar McDaniel adalah dengan memperbanyak latihan soal. Latihan soal bisa membuat otak kamu memahami materi pelajaran dengan lebih dalam. Kalaupun jawabanmu salah, nggak apa-apa. Dengan salah menjawab, kamu jadi tahu di mana letak kelemahanmu, sehingga bisa belajar ulang untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Sisihkan uang jajan untuk membeli buku-buku latihan soal ujian masuk universitas. Luangkan waktu untuk mengerjakan soal, paling nggak satu jam dalam seminggu. Ingat, persiapan ini dilakukan sejak satu tahun sebelumnya, gaes, bukan seminggu sebelum hari H ujian.

(Sumber gambar: papasemar.com, kym-cdn.com)

Pages